Janji Ibu

Jakarta mendung, kelabu dan murung. 
Kutinggalkan dia, yang masih bergelung tanpa sarung di tempat tidur. 
Semalam dia tidur larut, asik bermain bola ungu.

Nanti mama pulang cepat sayang, janjiku dalam hati. 
Segala kerja akan kuselesaikan cepat, agar aku dapat pulang tepat.
Kan kutemani lagi kau bermain…Nak

 

Jejak Ambigu

maka aku ingin (lagi) berkata; pergi saja kamu, jangan lagi jadi hantu.
Kaki kaki kita elah jauh melampaui cerita dulu. tentang kata yang ingin kaukatakan. tentang nyata yang ingin kunafikkan. tentang kepura-puraan yang kita lakoni.

sesungguhnya aku merasa itu, lebih mengakar dari yang bisa kubayangkan. sekuat apapun kusangkal itu, sekuat itu pula merasukiku. menyusup di lorong lorong jiwa. mencipta mimpi mimpi aneh.
indah kadang,
kalut kadang,
ambigu selalu.

selalu ambigu. seperti yang kita mau, seperti yang kita sengaja rancang. keambiguan membuat kita tak kemana-mana. disini saja. menikmati rasa yang kaya, yang tidak terpetakan di suatu definisi apa apa. selain ambigu itu sendiri.

dan kamu, menjejakkan ambigu itu dalam mimpiku kini.
Sedang nyatamu telah rapi diselipkan waktu di suatu tempat. Entah dimana, kutak ingin mencari tau.

De Javu

kau datang, aku pergi. di pintu jati sebuah gedung kita berpapasan. namamu tak kutahu. namaku mana kau tahu. meski begitu kau pun tersenyum. gigimu seputih susu. de javu.

di masa entah, mungkin kita pernah duduk satu meja, membahas headline sebuah koran. lantas beralih pada kolom-kolom tentang perang, investasi, bencana alam, intrik elite, ramalan ekonom negeri, pun kartun komedi satir. setelahnya, matamu singgah di wajah, menawariku jus buah. pipiku merona merah, mengiyakan jus buah. itu, tidak hanya sekedar jus buah kan ?

di masa entah, apakah itu benar-benar terjadi atau hanya ilusi ? atau de javu. kau hanya orang asing hari ini. aku berlalu pergi dari gedung itu. bayanganmu turut menyusupi dendroit. menabuh impuls sel abu. mengusikku ketika pukul sepuluh malam. mengusirku dari mimpi, pun mengusirku dari keterjagaan. dimana aku kini ? di dunia antara yang tak kutinggali. bersamamu yang hanya khiali. serta endorphin yang tak henti menyemarakkan sepi. bergumam irama pavaroti.

Hei Kamu…(sahabatku)

noted

Hei kamu,
yang dulu pernah bersedia mendengar kisahku tentang masa muda
kuning, berdenting, nyaring
dan mempesona.

kisah tentang dia yang mengisi hariku dengan pesan-pesan ambigu
pun lucu.

Hei kamu,
yang telah sekian mil jaraknya dariku kini. Sibukkah kamu hari ini ?
masihkah ada tersisa telinga dan hati tuk dengar kisahku
kini yang melulu tentang rutinitas
dan Jakarta yang membosankan,
yang melenakanku dari
leluasa merasa bahagia dan tertawa.

Hei kamu,
masih saja kuingat pesanmu saat itu, tentang bagaimana menjadi
bahagia dan bermakna.

Aku Ibu

Aku ibu,
mengasihimu dengan rasa raya yang sahaja
meski kau tak terlahir dari rahim yang kupunya.

Aku ibu yang hidup dalam hatimu,
mencinta tanpa membedakan warna bajumu,
entah kuning, hijau, biru atau kelabu.

Aku ibu yang mendoa dalam deras runtuh garis gerimis
pagi ini. Di saat kau gigih mengayuh semangat menerjang
segala untuk menuju cita yang kaupelihara.

Aku ibu yang selalu ingin membelaimu,
selagi bayi hingga kau bisa kokoh berdiri.

Kuingin kau menjadi kuat,
menaklukan segala rasa takut mengahadapi dunia.
Kuingin kau bertumbuh hebat,
bukan, bukan harus menjelma pejabat atau jutawan,
cukuplah menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat

Aku ibu, hidup selamanya dalam hatimu