lihatlah sayang, jauh jauh di sana
di bingkai jendelaku.
gede pangrango berdiri mengamati
gerak gerik kota hujan dan angkot hijau yang mengalir
mengantar pedagang ke pasar,
mengantar petualang ke terminal,
pun mengantar pemabuk pulang ke rumah.
bukalah tirai jendelamu, sayang
dan masihkah kau terkenang
saat muda kita, pernah bercengkerama di sana
di Kedung Badaknya.
lalu mengejar edelweis yang tak kemana selain
berdiam di puncaknya.
di tanjakan setan kau pernah bertanya,
” beranikah kau melanjutkan ?”
tentu saja, sayang.
tentu saja aku berani, aku bukan gadis lemah,
aku berani menghadapi apapun, selain diriku
sendiri.
dan gunung itu pernah membisikkan, padaku.
“tegak berdiri
dan hadapi
dirimu sendiri,
maka kau akan berani hadapi dunia”
dan saat kita masing masing telah terlempar,
jauh. jauh sekali.
kau di pulau timur, dan aku di barat,
masihkan kau ingat.
gunung itu, lembah lumut itu,
petuahnya dan air panas yang ramah.
kini saat ku kembali, di kakinya yang jauh.
setalah lama sekali,
kurasai dia menyapa, apa kabarmu
lalu bertanya,
“sudahkah kau berani hadapi dirimu sendiri ?”

