Gede-Pangrango di Jendelaku

Posted in Uncategorized on Desember 9, 2010 by katakatalina

lihatlah sayang, jauh jauh di sana
di bingkai jendelaku.
gede pangrango berdiri mengamati
gerak gerik kota hujan dan angkot hijau yang mengalir
mengantar pedagang ke pasar,
mengantar petualang ke terminal,
pun mengantar pemabuk pulang ke rumah.

bukalah tirai jendelamu, sayang
dan masihkah kau terkenang
saat muda kita, pernah bercengkerama di sana
di Kedung Badaknya.
lalu mengejar edelweis yang tak kemana selain
berdiam di puncaknya.

di tanjakan setan kau pernah bertanya,
” beranikah kau melanjutkan ?”
tentu saja, sayang.
tentu saja aku berani, aku bukan gadis lemah,
aku berani menghadapi apapun, selain diriku
sendiri.
dan gunung itu pernah membisikkan, padaku.
“tegak berdiri
dan hadapi
dirimu sendiri,
maka kau akan berani hadapi dunia”

dan saat kita masing masing telah terlempar,
jauh. jauh sekali.
kau di pulau timur, dan aku di barat,
masihkan kau ingat.
gunung itu, lembah lumut itu,
petuahnya dan air panas yang ramah.

kini saat ku kembali, di kakinya yang jauh.
setalah lama sekali,
kurasai dia menyapa, apa kabarmu
lalu bertanya,
“sudahkah kau berani hadapi dirimu sendiri ?”

Aih, Hari Ini….

Posted in Uncategorized on Desember 7, 2010 by katakatalina

aih hari ini, tanggal merah yang kunanti. saat langkah-langkah terhenti. tak perlu berlarian dan mengharap jam istirahat. tak perlu tertatih oleh list panjang pekerjaan yang dilimpahkan. dan akupun kembali memiliki diriku sepenuhnya.

———-

aih, hari ini. saat aku bisa meneguk coklat panas, tanpa harus berkali-kali menengok arloji. saat aku bisa berlama-lama merasai endorfin yang dibangkitkan. serta menjenguk teman-teman maya yang terabaikan. dan begitu, aku merasai kerinduan sekaligus merasa dilupakan.

———

aih hari ini, saat aku memilih tidur dibanding menerima tawaran nonton narnia. bukan karena ku tak setia kawan. hidup toh pilihan. dan narnia masih tayang esok lusa. tapi rasa capek harus disembuhkan. sebab sekretaris kantorku sudah mengirim email agenda esok hari.

———

aih hari ini, saat engkau batal menjenguk. dan kerinduan masih bertumpuk. aku memilih mengetuk keyboard. membiarkan gagasan berloncatan liar di layar. biar saja berantakan. biar saja tidak indah. apa peduliku. toh aku bukan rendra, bukan pula pramodya.

———

ai hari ini, hari yang pantas dirayakan. bukan dengan kembang api atau mercon. tapi dengan doa dan harapan awal tahun. pun sedikit keyakinan dan kesungguhan. tahun ini harus lebih berkualitas dari sebelumnya. sebab kita telah banyak berbuat salah dan belajar karenanya.

———

aih hari ini,

———

happy new islamic year, wish you all the best !!
^,^

Replay

Posted in Uncategorized on Agustus 28, 2010 by katakatalina

Seperti delapan tahun lalu. Di ruang tamuku yang abu. Kau dan mereka datang bersama riang sore hari. Bercerita segala. Tentang dosen yang penyayang sekaligus plin plan. Tentang kuliah yang melelahkan dan praktikum di lapangan.

Lantas keluhan dan nasihat meluncur bergantian. Di seling ramai tawa lepas ikhlas. Sementara hujan turun mendadak. Lantas langit meledak. Menyala seterang neon pada sepersekian detik. Dan kita terjebak dalam obrolan yang marak. Tak begitu peduli petir salak menyalak.

Lalu waktu melesat cepat.

Aku, kamu dan mereka menyebar langkah pada arah berbeda. Janji bertemu menjadi semakin langka. Meski kita tak pernah bisa benar-benar lupa, tentang kisah kisah berwarna cerah pun redup. Segalanya seperti sangat hidup, seolah baru terjadi kemarin itu.

Dan hari ini, bersama cappucino yang pekat.

Kita bersama meloncat mengetuk pintu waktu. Mengunjungi masa masa itu. Mengulang segala rasa yang sama. Kebersamaan dan kasih sayang tanpa tendensi. Menertawakan kebodohan yang polos dulu. Mengomentari kecerobohan darah muda. Ah, betapa waktu telah membentuk kita jadi sedikit bijak dan penyabar. Menyikapi peristiwa dari sudut berbeda.

Dan hari ini, bersama donat yang bulat.

Kita coba memutar ulang apa yang terekam. Melangkah mundur sebentar bertualang dalam kenangan. Betapa segala indah dan menyenangkan. Bersyukur kita pernah diakrabkan dalam persahabatan.

Syarat

Posted in Dia dengan kaitan (tags) , on Agustus 14, 2010 by katakatalina

“Jika naik kelas, kau akan kuberi selusin buku tulis berwarna dan beraroma bunga. Jika kau tak naik kelas, kau tak akan kuberi uang saku selama tujuh minggu.”
Ujar banyak bapak kepada anak-anaknya.

“Kau kan kucinta hanya jika kau mencintaiku. Kau kan kunikahi hanya jika kau bisa membelikanku sebuah rumah berpagar baja.”
Janji sang kekasih kepada lelakinya.

“Saya akan menaikkan pangkatmu jika kau bekerja keras dan disiplin. Kau akan kupecat jika melanggar peraturan.”
Janji sang atasan pada bawahannya.

“Aku akan beribadah jika Tuhan memberiku pahala untuk membayar tiket ke surga.”
Janji seorang hamba suatu ketika.

Begitulah, saya atau anda atau kebanyakan kita selalu fokus pada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bukan tujuan itu sendiri. Bukan pula makna dari proses yang dijalani. Hal itu membuat kita terjebak pada perbuatan yang mekanistik, yang sayangnya hanya berefek pada hilangnya energi (baca : capek) semata. Tanpa pernah mendapatkan arti yang hakiki dari suatu proses dalam setiap tahap kehidupan.

Mindset kita pun sering terperangkap pada paradigma ‘saya akan bahagia jika tujuan saya tercapai’. Seharusnya ‘kan kita bahagia kapan saja, hari ini, besok dan nanti. Tidak hanya pada momen tertentu saat tujuan tercapai. Rugilah kita kalau begitu…

Kita selalu melupakan esensi dari sebuah perbuatan. Kita hanya fokus pada bagaimana cara mencapai hasil yang diinginkan. Tidak menghayati proses yang dijalani, tidak melibatkan hati, tidak melibatkan diri sepenuhnya dalam rangka pembelajaran dan pengabdian pada-Nya.

Bukankah segala hal baik yang kita kerjakan harus diniatkan untuk menggapai ridho-Nya…? Bukan hanya menggapai surga-Nya ? Jika kita sedemikian terobsesi pada surga, maka kita hanya akan menjadi hamba yang tendensius. Bukan sang mukhlasin yang orientasinya adalah Ridho Illahi.

Surga hanyalah efek, bukan tujuan. Dan ibadah bukan lagi syarat, tapi proses yang indah yang menerbitkan kebahagiaan hakiki setiap kali menjalaninya.

Semoga kita bisa selalu ikhlas menjalani setiap perbuatan, bukan hanya sekedar menggugurkan persyaratan semata.

Wallahu ‘alam bisshowab…

Tanpa Merek

Posted in Uncategorized on Agustus 11, 2010 by katakatalina

Kau lihat mereka melihatmu sebelah mata,
sebab kau tak berbaju zara dan bersepatu everbest.
kau lihat mereka menurunkan kacamata, memicing miring menatap tasmu yang bukan gucci atau samsonite.

haruskan jenius diperangkap kacamata guess, atau dibelenggu penunjuk waktu seiko ?
haruskah kejernihan hati diselubungi simplicity lalu diaurkan oleh chanel no 5 ?

tidak mengertikah mereka, bahwa kau adalah pribadi tanpa merek yang tak hendak dinilai sedemikian dangkal.
rugilah mereka, tak pernah mampu mencapai kedalaman substansi,
pun tak kan sadar telah menuju dehumanisasi sendiri.

kau hanya anak jaman yang tak sudi dibungkus manis produk kapitalis.
kau hanya anak jaman tanpa bandroll,
bukan bagian dari mereka yang melenggak lenggok mengkampanyekan merek merek entah dengan harga dua ribu kali harga gabah.

Waktu

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Agustus 9, 2010 by katakatalina

Tik tok tik tok penunjuk waktu melaju maju. Menubruk aku yang kaku bergerak robotis mengitari pagi siang lalu malam.
Sementara kata kata berhambur dalam kepala tak tertata. Berjejalan serupa penumpang bis kota pada sore jam lima.
Segala kata mengambang di permukaan tanpa sempat bersnorkel ke dalam sana sebelum akhirnya terlupa begitu saja. Aku ingin menuliskannya, terkadang.
Terkadang tidak juga, membiarkannya ada dalam pelukan udara dan mengikhlaskannya diseret waktu mundur jauh ke sana.

Tik tok tik tok, tahun depan menjelma tahun sekarang. Banyak kata belum juga tertata rapi dalam sebuah halaman bersampul hitam. Segala kata hanya ada tapi tak mengada. Tak sempat terbaca, tak sempat tercatat. Biarlah, biarlah begitu saja. Sebab sejarah terlalu padat memuat kisah tabung gas meledak, misteri teroris, rumah aspirasi serta segala polah artis dan penghibur.

Tik tok tik tok, aku hanya diam mengirama jalannya waktu….

“apa kabar sobat ?”

Mata Bintang

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , on Januari 26, 2010 by katakatalina

Matanya coklat, alisnya tebal, bibirnya sewarna tomat masak. Sayang kulit yang seharusnya putih bersih itu terkontaminasi ultraviolet siang hari. Dia mengangsurkan amplop putih kecil yang lusuh. Lalu bernyanyi tanpa melodi yang pas. Suaranya kecil, kata-katanya tak sempurna, matanya tak mengekspresikan apa-apa.

Lagu tanpa judul itu selesai pada titik yang tak seharusnya. Lantas dia menujuku, meminta kembali amplop putih itu. Aku menahannya di udara, lalu bertanya ; “Kamu kelas berapa ?” Dia memandangku ragu. Aku bisa mengenali sorot jenius yang tinggal di matanya. “Saya kelas bawah.” Jawabnya lugu. Amplop masih di tanganku, dia masih menunggu. “Kelas satu ? Kelas dua ?” Aku menebak umurnya, mungkin enam atau tujuh tahun.

“Saya kelas bawah, Bu. Kelas bawah tak bisa sekolah. Bagaimana mungkin kelas bawah bisa membayar biaya sekolah ?”

Dia memandangku serius. Sorot jenius itu seperti pisau tumpul yang tak terasah, menggerakkan bola matanya dengan gelisah. Menikamku dan meninggalkan perih yang tak kutahu. Aku pun menyerah. Oh ya, mengapa aku harus heran. Di kota ini ada berbagai jenis manusia hidup. Kesemuanya mencoba bertahan hidup. Termasuk anak seusianya, yang mungkin saja bisa menjadi anak didik Profesor Yohanes Surya, tetapi malah terpaksa menjadi pengamen dini.

Akhirnya amplop kuberikan. Tak tahu apa yang bisa kuharapkan dari amplop dan isinya itu yang bahkan takkan bisa membelikannya sebuah identitas. Identitas yang dicatat di buku absen sebuah kelas. Kelas dimana seharusnya dia berada kini.

Dia pun pergi dari hadapanku, seorang ibu di kejauhan menyambutnya. Menagih amplop-amplop yang ada di tangannya lalu memasukkan semua isinya di kantong bajunya sendiri. Setelah mengosongkan semua amplop itu, sang ibu melambaikan tangannya, menyuruhnya berlalu seperti mengusir seorang anak ayam. Sementara itu, aku meraba perutku berharap mendapatkan anugrah sepertinya, gadis kecil bermata bintang itu.

Alienasi

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , on Januari 21, 2010 by katakatalina

di rimba kata kutersesat memakna hakikat. otakku tlah tuli dari bisik kamus tua berbadan kusam menguning. padanya kubertanya tentang aku. padaku dia bertanya tentang dia. tak lagi kumengenal diri. tak lagi kumengenal dia.

segala terasa asing.

di bilik ambigu ku rawat pusing selayak anak kandung. pusingku merintih manja mengharap aspirin. entah dimana pernah kujumpa aspirin. sepertinya di kehidupan yang sangat lampau. dahulu. dahulu sekali.

segala terasa asing.

waktu telah menyekapku di sarang terkunci. kamus tua pernah menjanjikanku kebebasan. janji kosong semata, kukira. sebab dia tak pernah bisa menemukan kunci pembebasanku. kemerdekaanku hanya ilusi. seperti janji kompeni pada pribumi.

segala terasa asing.

tak ada sesiapa yang kukenali. wajah wajah hanya berkelebat dalam ingatan yang merindu aspirin. mereka tak pernah benar-benar ada. lantas, kata kata mendadak membludak seperti pasukan Gajahmada. mengepung, mengancam.

segala terasa asing.

kuterlempar dari rumahku berdiam. dari raga yang kuakrabi. hakikat menjelma kemudian. berwajah putih dan bersinar. digenggamnya kunci yang kuingin. jemariku berkomplot menggapai kunci itu. namun hanya udara kosong yang teraih.

segala terasa asing.

Kota di Jendela Bis Kota

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , on Januari 19, 2010 by katakatalina

jangan dulu kau tanya hatiku,
diamlah sejenak saat pengamen muda
menyanyikan lagu Franky dengan suara merdu
yang tak pernah dikenal pengusaha rekaman.

bersamanya, biar ku mengapung bergabung
karbondioksida knalpot tua bis kota yang harusnya telah
istirah di gudang tukang besi. mengapa pula dia
masih lalu lalang mengumpul recehan.

sembari kupandangi dinding-dinding kaca gedung tinggi
yang dijilati matahari sebelum senja. di luarnya lihatlah
bocah-bocah telanjang kaki mengkerut mempertanyakan
seperti apa rupa Enstein dan Stalin.

kemana perginya kesempatan itu ? di lemari siapa
tersimpan seragam merah putih yang harusnya mereka
pakai tiap senin hingga kamis. masihkah tanyaku ini
selesai dibahas di ruang rapat pejabat di atas sana.

jangan kautanya kumenangis untuk apa. air mata
tak pernah menjawab apa apa selain pelampiasan iba tanpa suara.
kuingin kabur dari segala cerita kota yang dulu pernah
dihias kompeni dengan gedung-gedung Victoria.

kuingin menculik bocah-bocah itu, lalu kusekap
dalam dekap. biar kuajak mereka menjabat tangan beku
Einstein dan Stalin yang mendiami buku-buku. kemudian
kuajari mereka menyanyi Franky saat langit menjadi jingga.

jangan dulu kau tanya hatiku, tentang cinta dan sebagainya
hatiku masih diam tertawan mereka. pengamen, bis kota,
gedung-gedung, bocah telanjang kaki, pun pejabat di
berita hari ini.

Bahu Untuknya

Posted in Uncategorized on Januari 17, 2010 by katakatalina

sesat matamu terperangkap di wajah
bermata bongkah.
tak ada kata tumpah dari bibir semerah saga.

kata-kata Dante yang kaubaca ulang pun,
tak lantas melukis senyum
pada wajah sekelabu mendung.

penghiburan apalagi yang bisa kauberi,
menari poco-poco atau srimpi ?
atau diam menyediakan bahu tuk disinggahi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.