RSS

Mata Bintang

26 Jan

Matanya coklat, alisnya tebal, bibirnya sewarna tomat masak. Sayang kulit yang seharusnya putih bersih itu terkontaminasi ultraviolet siang hari. Dia mengangsurkan amplop putih kecil yang lusuh. Lalu bernyanyi tanpa melodi yang pas. Suaranya kecil, kata-katanya tak sempurna, matanya tak mengekspresikan apa-apa.

Lagu tanpa judul itu selesai pada titik yang tak seharusnya. Lantas dia menujuku, meminta kembali amplop putih itu. Aku menahannya di udara, lalu bertanya ; “Kamu kelas berapa ?” Dia memandangku ragu. Aku bisa mengenali sorot jenius yang tinggal di matanya. “Saya kelas bawah.” Jawabnya lugu. Amplop masih di tanganku, dia masih menunggu. “Kelas satu ? Kelas dua ?” Aku menebak umurnya, mungkin enam atau tujuh tahun.

“Saya kelas bawah, Bu. Kelas bawah tak bisa sekolah. Bagaimana mungkin kelas bawah bisa membayar biaya sekolah ?”

Dia memandangku serius. Sorot jenius itu seperti pisau tumpul yang tak terasah, menggerakkan bola matanya dengan gelisah. Menikamku dan meninggalkan perih yang tak kutahu. Aku pun menyerah. Oh ya, mengapa aku harus heran. Di kota ini ada berbagai jenis manusia hidup. Kesemuanya mencoba bertahan hidup. Termasuk anak seusianya, yang mungkin saja bisa menjadi anak didik Profesor Yohanes Surya, tetapi malah terpaksa menjadi pengamen dini.

Akhirnya amplop kuberikan. Tak tahu apa yang bisa kuharapkan dari amplop dan isinya itu yang bahkan takkan bisa membelikannya sebuah identitas. Identitas yang dicatat di buku absen sebuah kelas. Kelas dimana seharusnya dia berada kini.

Dia pun pergi dari hadapanku, seorang ibu di kejauhan menyambutnya. Menagih amplop-amplop yang ada di tangannya lalu memasukkan semua isinya di kantong bajunya sendiri. Setelah mengosongkan semua amplop itu, sang ibu melambaikan tangannya, menyuruhnya berlalu seperti mengusir seorang anak ayam. Sementara itu, aku meraba perutku berharap mendapatkan anugrah sepertinya, gadis kecil bermata bintang itu.

 

Tentang katakatalina

perempuan. pemimpi. mencoba berpuisi, meski untuk dibaca sendiri. mengidolai sapardi djoko damono, seno gumira aji darma, ayu utami, dewi lestari juga oka rusmini.
130 Comments

Posted by pada Januari 26, 2010 in Uncategorized

 

Kaitkata: , ,

130 Responses to Mata Bintang

  1. zulfadhlipdkb

    Januari 26, 2010 at 7:06 am

    nice artikel… lanjutkan

    http//zulfadhlipdkb.wordpress.com/

     
    • katakatalina

      Januari 26, 2010 at 7:53 am

      makasih ya dah ke sini…

       
      • didtav

        Januari 29, 2010 at 6:41 am

        salam kenal n numpang pertamaxx

         
      • didtav

        Januari 29, 2010 at 6:41 am

        mampir ya ke blog saya meski sebentar

         
  2. Hary4n4

    Januari 26, 2010 at 10:41 am

    Potret masyarakat yg tersisihkan dan terbuang, diantara kilauan gedung2 mewah serta gemerincing perhiasan kota.. Hmmm..tulisannya sangat sarat dgn cinta dan kasih sayang… Aku suka banget dgn tema2 semacam ini.. Realistis dan nyata.. Trims utk cerita indahnya..

     
    • katakatalina

      Januari 26, 2010 at 11:23 am

      di selembar potret buram itu, kita bisa mendapatkan serangkaian mutiara hikmah. makasih juga ya, sudah menyukai ini. :)

       
  3. Aulia

    Januari 26, 2010 at 11:44 am

    banyak bintang di negeri ini, di saat perut harus mengharapkan anugrah untuk hari esok dan esoknya lagi :)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:41 pm

      iya, banyak bintang yang tak terdeteksi :)

       
  4. wahyu

    Januari 26, 2010 at 12:04 pm

    kasihan ya si anak itu, seharusnyan dia yang mendapatkannya..
    hmmmm… cerita yang menarik dan bermakna dalam

     
    • katakatalina

      Januari 26, 2010 at 12:50 pm

      iya, kasus ini sudah lama terjadi. miris. butuh solusi….saya belum bisa jadi solusi. hiks…

       
  5. sunarnosahlan

    Januari 26, 2010 at 12:48 pm

    masih banyak anak-anak yang terpaksa mencari sesuap nasi tersingkir dari dunianya bermain dan pendidikan

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:48 pm

      iya…dan kadang sesuap nasi untuk orang tuanya juga

       
  6. hanif IM

    Januari 26, 2010 at 1:12 pm

    wah, masih banyak generasi penerus bangsa yang cemerlang, semoga saja yang sekarang secermelang para ilmuwan, yang akan membangkitkan Indonesia dengan peradaban yang lebih maju.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:49 pm

      amin…saya yakin, SDM Indonesia gak kalah sama di luar…

       
  7. nurrahman18

    Januari 26, 2010 at 1:25 pm

    saia melihat bintang ajah malam ini :D

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:53 pm

      selamat menikmati indahnya bintang…

       
  8. abughalib

    Januari 26, 2010 at 1:55 pm

    cerita yang memilukan, semoga bangsa kita cepat bangkit dari keterpurukan sehingga kita tak lagi melihat dan mendengar kisah seperti di atas

     
  9. guskar

    Januari 26, 2010 at 2:10 pm

    menurut saya, jawaban anak bermata bintang itu sungguh jenius. saya jd ingat buku “orang miskin dilarang sekolah” karya eko prasetyo. **kapitalisme pendidikan telah menimbulkan sisi buram dunia pendidikan. masalah biaya yang mahal, salah satunya yg menyebabkan orang miskin kesulitan menyekolahkan anak-anaknya.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:55 pm

      dan dunia pendidikan dikomersilkan…, lantas dengan apa si mata bintang membayar uang sekolah ya.. :(

       
  10. nakjaDimande

    Januari 26, 2010 at 2:22 pm

    aku bisa membayangkan sorot jenius itu Lin dan aku juga meraba perutku.. sekarang

     
  11. bhamz

    Januari 26, 2010 at 2:22 pm

    Met mlm,

    Membaca posting ini, rasa iba dan kecewa berkecamuk. Iba melihat hidup model anak itu. Kecewa, karena sy dan kebanyakan kita tidak mampu berbuat banyak.
    Entah kapan situasi ini akan berubah. Banyak potensi yg sia-sia di negeri ini. Seperti anak itu, ia potensi untuk membangun bangsa ini bila dididik di jalan yg benar.

    Salam kenal,

     
  12. vtrediting

    Januari 26, 2010 at 2:57 pm

    Teruskan memposting seputar sastra, puisi, cerpen, novel dan ceritera bersambung. Salam kenal dan sukses selalu.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:36 pm

      salam kenal juga, terima kasih dah ke sini….:)

       
  13. setitikharapan

    Januari 26, 2010 at 3:35 pm

    Malam dingin ditemani bintang-bintang di luar jendela. Membaca kisah bintang yang jenius di blog ini. Sebuah ketimpangan yang terjadi. Ketika si kaya membuang makanan, tapi lihat si kelas bawah. Mereka harus berpanasan seharian demi makanan yang jauh lebih murah timbang makanan yang dibuang oleh si Kaya.

    Cerita yang mengharukan mbak.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:02 pm

      iya, semoga mengingatkan kita untuk bisa melihat ke bawah dan mengulurkan tangan

       
  14. melianaaryuni

    Januari 26, 2010 at 3:36 pm

    Ilustrasi kehidupan pengamen itu sering sekali saya dengar dan sangat banyak terjadi di kota saya,Mbak. Miris lihatnya, satu sisi….Oknum yang memanfaatkan kepolosan anak demi diri dan golongannya tidaklah lebih berharga dari anak yang tidak tahu apa-apa itu….

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:03 pm

      bener, saya juga kesel kalo ada oknum yang memanfaatkan kepolosan anak kecil…

       
  15. muhammad zakariah

    Januari 26, 2010 at 4:34 pm

    weew.. miris jg lihat ada orng seperti itu yg.. gak tau diri.. :P

    nice artikel…

     
  16. Mamah Aline

    Januari 26, 2010 at 5:23 pm

    jadi ingat tokoh lintang di laskar pelangi, jenius tapi ia tidak seharusnya berada di tempatnya sekarang, hanya lintang lebih beruntung dari pengamen kecil bermata bintang yang kau jumpai itu Lin

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:33 pm

      iya, banyak lintang lintang yang sayang tidak ditemukan profesor yohanes suryo ya mbak

       
  17. nurhayadi

    Januari 26, 2010 at 7:30 pm

    Ironis… kita mampunya hanya melihat… seperti menonton drama satu babak… drama tentang si mata bintang… kita hanya duduk di kursi menunggu drama berakhir… tamat… the end… selesai…

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:07 pm

      nah, semoga kita tidak selalu menjadi penonton ya

       
  18. Rafi

    Januari 26, 2010 at 8:19 pm

    Potret Kehidupan yg memilukan…hmm, Nice Posting !

     
  19. Ruang Hati

    Januari 26, 2010 at 9:02 pm

    keras nya kehidupan nyata yang harus dihadapi, inspiratif thanks 4 share. salam hangat selalu

     
  20. teamtouring

    Januari 27, 2010 at 12:43 am

    sepertinya ibu tersebut memperkerjakan anak itu untuk mencari uang..
    seharusnya duduk di bangku sekolah

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:42 pm

      ya, banyak oknum ibu yang seperti itu

       
  21. Pensioner

    Januari 27, 2010 at 1:08 am

    Selamat pagi sahabatku.
    Saya berkunjung untuk berkenalan dan silaturahmi serta menyerap ilmu disini.
    Saya juga ingin memperkenalkan blog yang baru soft opening yaitu Pensioner.
    Sebagai newbie mohon masukan,kritik dan saran dari para senior agar blog saya ini menarik dan bermanfaat
    Terima kasih, salam hangat dari Surabaya.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:32 pm

      selamat malam pak, terima kasih sudah ke sini…

       
  22. wardoyo

    Januari 27, 2010 at 5:24 am

    Fenomena yang biasa dijumpai di kota besar
    tetapi disampaikan dengan permainan kata yang luar biasa
    bagus sekali… saya suka.

     
  23. dian

    Januari 27, 2010 at 5:30 am

    Anak pemulung di dekat kos saya ditanya, “Kenapa nggak mau sekolah?”
    Jawabnya: Udah banyak orang pinter. Semakin pinter malah semakin banyak bohongnya. Saya mau kayak gini aja.
    Hhh… kemana mereka akan dibawa?
    Mana janji akan memelihara anak terlantar?

     
  24. darahbiroe

    Januari 27, 2010 at 5:38 am

    jadi ikut sedih setelah membaca yang mbak sauskecap tuturkan ini heheh

    hadir lagi moga gak bosan hehe

     
  25. tary si kuman

    Januari 27, 2010 at 6:10 am

    miris sekali, salut buat mbak, jago banget merangkai kata-katanya :D

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:13 pm

      wah..ini belum jago, masih banyak sang maestro yang lebih jago :)

       
  26. cobaberbagi

    Januari 27, 2010 at 8:00 am

    salam kenal mbak
    ditunggu kunjungan baliknya :)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:30 pm

      salam kenal juga…terima kasih dah ke sini

       
  27. elia|bintang

    Januari 27, 2010 at 11:42 am

    begitulah potret negara ini. anggota dpr difasilitasi mobil mewah. kmrn dikasih laptop seharga 20 jt, pdhl yg 9 juta jg udh cukup. mereka itu kan palingan nyimpen dokumen, ga butuh laptop canggih2 amat.. buang2 duit rakyat di saat banyak anak2 yg ga bisa sekolah :|

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:13 pm

      dan sekarang mereka mengajukan rumah aspirasi, ….ck…ck..ck

       
  28. Kakaakin

    Januari 28, 2010 at 4:54 am

    Mudah2an dirimu akan mendapatkan yang jauh lebih indah dari pada si mata bintang :)

     
  29. indra1082

    Januari 29, 2010 at 1:21 am

    Tega sekali ibunya.. :sad:

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:25 pm

      hiks…iya, banyak yang seperti ituuu :( (

       
  30. denadio

    Januari 29, 2010 at 2:26 am

    walaupun sang mata bintang bernyanyi tanpa melodi yang pas namun lantunan lagunya dapat mengusik telinga dan menyentuh hati, andaipun dia tidak mendapatkan status dimata orang lain. Tapi bagi saya, statusnya jauh lebih mulia diatas sana.

     
  31. Andi

    Januari 29, 2010 at 9:00 am

    wow… ketika puisi dan cerpen menjadi satu. lagi eksplorasi ya mbak? :)

     
  32. Tas Sekolah

    Januari 29, 2010 at 9:58 am

    Cerpen kah ?!?
    mm, masih da lanjutannya ?!?

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:43 pm

      hem…bukan cerpen ataupun cerbung. jadi apa ya… :)

       
  33. edda

    Januari 30, 2010 at 1:32 am

    miris banget ya :cry:

     
  34. Ersis Warmansyah Abbas

    Januari 30, 2010 at 2:57 am

    Mata cahaya jiwa

     
  35. ajikinai

    Januari 30, 2010 at 6:21 pm

    What a lame….I’m sorry to hear that…

     
  36. Tutorial Admob

    Januari 30, 2010 at 10:25 pm

    kalau itu dibuat sinetron bisa keren tuh…

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:23 pm

      waduh…kalo disinetronkan jadi aneh ga ya

       
  37. sedjatee

    Februari 1, 2010 at 6:07 am

    terlahir untuk berpuisi… muantafs… tetap semangat…

    sedj

     
  38. setitikkehidupan

    Februari 1, 2010 at 3:30 pm

    kunjugan pertama…
    saya rasa kehidupan seperti itu harus diperhatikan oleh pemerintah….
    jangan sampai generasi muda kita turun ke jalan dan melupakan segala kehidupan tentang pendidikannya…..

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:22 pm

      terima kasih kunjugannya….., sepakat dengan pendapat itu. tapi kadang kita gak bisa banyak berharap dari pemerintah, perlu gerakan dari masyarakat sendiri…. :)

       
  39. luvaholic9itz

    Februari 2, 2010 at 5:42 am

    memang begitulah,, sebel !!!

    eksploitasi anak jalanan :(

     
  40. shafiragreensulaiman

    Februari 4, 2010 at 2:32 am

    :(

    nasib segelintir anak bangsa…

    *salam kenal*

     
  41. sedjatee

    Februari 4, 2010 at 3:02 am

    ada banyak orang-orang seperti mereka… wahai pemerintah yang baik budi….. mana janji-janjimu….

    sedj

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:22 pm

      kalo pemerintah tak tepat janji, kita percaya pada janji siapa lagi ???

       
  42. Kakaakin

    Februari 4, 2010 at 6:30 pm

    Lin… dirimu kemana aja? Lagi sibuk ya…

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:23 pm

      hiks iya mbak, baru bisa apdet sekarang…

       
  43. Fachmy Casofa

    Februari 6, 2010 at 3:43 am

    wah, dalem banget nih… salutttt

     
  44. annosmile

    Februari 7, 2010 at 5:18 am

    lama gak berkunjung kesini
    absen dulu nih

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:25 pm

      contreng…sudah masuk di daftar absen :)

       
  45. Villa Nova Songgoriti

    Februari 8, 2010 at 8:28 am

    mbak, aq link ya.. kl mau ini boleh2 aja…. biar makin byk pengunjung, ok

     
  46. demoffy

    Februari 9, 2010 at 3:39 am

    stiap mnusia mempunyai jalan sendri-sendri…

     
  47. Oyen

    Februari 9, 2010 at 8:13 am

    dan begitu banyak kita menemukan mata bintang itu di sekitar kita…

     
  48. wardoyo

    Februari 10, 2010 at 10:09 am

    Kembali mengagumi rangkaian kata tentang si mata bintang

     
  49. fai_cong

    Februari 12, 2010 at 1:07 pm

    salam kenal mbak…

     
  50. M.Galih Ahlul 'Ibad

    Februari 12, 2010 at 4:09 pm

    Assalamu’alaikum..

    Salam Kenal yah.. :)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:13 pm

      wassalamualaikum, salam kenal juga :) :)

       
  51. langit11

    Februari 18, 2010 at 4:50 am

    menerawang si mata bintang…
    menengok diri..
    ternyata aku harus banyak bersyukur…
    artikelnya menyentuh…

     
  52. kidungjingga

    Februari 19, 2010 at 5:39 am

    mata bintang yang bernyanyi lewat matanya?

    hmmm….
    semoga juga dianugerahi si mata bintang…

     
  53. kank_ripay

    Februari 19, 2010 at 8:46 am

    hem… bintang juga punya mata ya??? ekekkekeeeee

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:06 pm

      bukan bintang yang punya mata, tapi mata yang berbintang… :)

       
  54. iip albanjary

    Februari 24, 2010 at 10:55 pm

    impressing moment in a fabulous clustered words

    tetap berpuisi sist, biar blogsphere makin elok:)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:30 pm

      semoga saya bisa tetap bersemangat…hehe :)
      btw, makasi semangatnya

       
  55. linduaji

    Maret 1, 2010 at 8:29 am

    saya juga melihat bintang di dalam rangkaian kalimat anda.

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:03 pm

      wah..yang mana ya.. hehe *celingak-celinguk*

       
  56. Kakaakin

    Maret 1, 2010 at 12:59 pm

    Lina…
    Entah mengapa
    Aku tiba-tiba merasa
    ketiadaanmu ini
    menyepikan hariku
    Dimanakah…

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:31 pm

      duh mbak…, maafkan aku jika sampai menyepikan harimu. akupun merasa begitu…
      kosong…

       
  57. iip albanjary

    Maret 4, 2010 at 3:39 am

    jalan-jalan siang,
    sambil nunggu jam 12 hehe

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:31 pm

      wah…sambil membayangkan menu maksi nih ya

       
  58. viany

    Maret 19, 2010 at 12:12 pm

    Cerita yang mengharukan. Bintang tetaplah bintang yang kan tetap berkilau walau bercambur debu dan kotoran..

     
  59. demoffy

    April 13, 2010 at 6:29 am

    Bintang selalu bersinar..
    tak pernah padam…
    hingga tak ada lagi…
    kehidupan..

    mbak dapat award dari saya… :) di ambil ya.. :)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 2:33 pm

      wah..terima kasih awardnya. tapi sepertinya sudah amat terlambat ya. maafkan saya….baru ngeh

       
  60. Dede Al mustaqim

    April 13, 2010 at 2:47 pm

    Nice post,, sungguh terharu saya dengan keadaan anak itu….!!
    Salam Kenal ya ,,, :)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 3:01 pm

      salam kenal juga, makasih kunjungannya

       
  61. sedjatee

    Mei 13, 2010 at 7:44 am

    lama gak ngupdate tulisan Sobat..
    mungkin sedang sibuk, semoga sehat selalu
    salam sukses Sobat..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:02 pm

      iya…, terima kasih sobat…doanya. semoga selalu diberi kesehatan juga

       
  62. sunarnosahlan

    Juni 4, 2010 at 1:55 pm

    lama aku tak berkunjung ke sini untuk baca-baca tulisan gaya puisi

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:02 pm

      dan lama juga saya tidak jalan-jalan ke rumahnya pak sunarnosahlan…maaf

       
  63. tips beli rumah

    Juni 21, 2010 at 1:15 pm

    bolehlah……………………….

     
  64. iip albanjary

    Juli 9, 2010 at 3:48 am

    ternyata masih setia dengan puisi-puisi lembut.

    terus berkarya ya:)

     
    • katakatalina

      Agustus 9, 2010 at 1:01 pm

      berusaha untuk konsisten posting…hehe, tapi kadang kesibukan (alasan klise) menghalangi itu..terima kasih semangatnya

       
  65. Asop

    Agustus 11, 2010 at 3:51 pm

    Hidup adalah berjuang dan perjuangan. :|

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 923 pengikut lainnya.