Stasiun, Rindu Ibu

selalu berdiri di sana,
stasiun tua di kotamu,
menunggu,
dia.

bocah remaja yang dulu kau lepas pergi,
bersama gerbong-gerbong yang mendorongnya
menuju sebuah alamat
perantauan.

kau merinduinya serupa kemarau pada awan
yang mengandung titik-titik air.
meski rindumu tak berupa teriakan
nyalang petir pada bumi.

kau merinduinya dalam diammu,
seterdiam malam,
kala rindumu deras mengalir
melintasi keriput pipi putihmu.

lantas kaupun kan kembali riang mengkhayalkan
masa-masa usang,
ketika dia merengek manja
mencari puting susumu.

seperti bumi, kaupun memberi segalagala
hingga nyaris habis seluruh yang kaupunya
hanya cinta
serta rindumu yang tersisa.

12 thoughts on “Stasiun, Rindu Ibu

  1. di setasiun, rindu kepada ibu… mencari puting susu… ketemu pedagang asongan yang menawarkan kopi susu panas.. lumayan dah… salam sukses..

    sedj

  2. ikiakukok :
    saya juga kangen…

    sedjatee :
    wah, kopi susu anget bisa menyegarkan

    Meliana :
    ibu selalu pahlawan

    Bundanya Dita ;
    bunda dita, selamat hari ibu

    Halaman Putih :
    setuju

    demoffy :
    horay…masih hafal

  3. Menumpang duduk sejenak
    membaca kalimat rindu
    Ibupun melepasku
    Berjuta sesal… kata beliau
    Telponlah ibu, nak…kata beliau
    Ibu merindukanmu… kata beliau
    Tak mampu kuberucap…
    hanya😥😥😥😥
    Maafkan aku, Bu…😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s