Jejak Ambigu

maka aku ingin (lagi) berkata; pergi saja kamu, jangan lagi jadi hantu.
Kaki kaki kita elah jauh melampaui cerita dulu. tentang kata yang ingin kaukatakan. tentang nyata yang ingin kunafikkan. tentang kepura-puraan yang kita lakoni.

sesungguhnya aku merasa itu, lebih mengakar dari yang bisa kubayangkan. sekuat apapun kusangkal itu, sekuat itu pula merasukiku. menyusup di lorong lorong jiwa. mencipta mimpi mimpi aneh.
indah kadang,
kalut kadang,
ambigu selalu.

selalu ambigu. seperti yang kita mau, seperti yang kita sengaja rancang. keambiguan membuat kita tak kemana-mana. disini saja. menikmati rasa yang kaya, yang tidak terpetakan di suatu definisi apa apa. selain ambigu itu sendiri.

dan kamu, menjejakkan ambigu itu dalam mimpiku kini.
Sedang nyatamu telah rapi diselipkan waktu di suatu tempat. Entah dimana, kutak ingin mencari tau.

De Javu

kau datang, aku pergi. di pintu jati sebuah gedung kita berpapasan. namamu tak kutahu. namaku mana kau tahu. meski begitu kau pun tersenyum. gigimu seputih susu. de javu.

di masa entah, mungkin kita pernah duduk satu meja, membahas headline sebuah koran. lantas beralih pada kolom-kolom tentang perang, investasi, bencana alam, intrik elite, ramalan ekonom negeri, pun kartun komedi satir. setelahnya, matamu singgah di wajah, menawariku jus buah. pipiku merona merah, mengiyakan jus buah. itu, tidak hanya sekedar jus buah kan ?

di masa entah, apakah itu benar-benar terjadi atau hanya ilusi ? atau de javu. kau hanya orang asing hari ini. aku berlalu pergi dari gedung itu. bayanganmu turut menyusupi dendroit. menabuh impuls sel abu. mengusikku ketika pukul sepuluh malam. mengusirku dari mimpi, pun mengusirku dari keterjagaan. dimana aku kini ? di dunia antara yang tak kutinggali. bersamamu yang hanya khiali. serta endorphin yang tak henti menyemarakkan sepi. bergumam irama pavaroti.