Janji Ibu

Jakarta mendung, kelabu dan murung. 
Kutinggalkan dia, yang masih bergelung tanpa sarung di tempat tidur. 
Semalam dia tidur larut, asik bermain bola ungu.

Nanti mama pulang cepat sayang, janjiku dalam hati. 
Segala kerja akan kuselesaikan cepat, agar aku dapat pulang tepat.
Kan kutemani lagi kau bermain…Nak

 

Hei Kamu…(sahabatku)

noted

Hei kamu,
yang dulu pernah bersedia mendengar kisahku tentang masa muda
kuning, berdenting, nyaring
dan mempesona.

kisah tentang dia yang mengisi hariku dengan pesan-pesan ambigu
pun lucu.

Hei kamu,
yang telah sekian mil jaraknya dariku kini. Sibukkah kamu hari ini ?
masihkah ada tersisa telinga dan hati tuk dengar kisahku
kini yang melulu tentang rutinitas
dan Jakarta yang membosankan,
yang melenakanku dari
leluasa merasa bahagia dan tertawa.

Hei kamu,
masih saja kuingat pesanmu saat itu, tentang bagaimana menjadi
bahagia dan bermakna.

Aku Ibu

Aku ibu,
mengasihimu dengan rasa raya yang sahaja
meski kau tak terlahir dari rahim yang kupunya.

Aku ibu yang hidup dalam hatimu,
mencinta tanpa membedakan warna bajumu,
entah kuning, hijau, biru atau kelabu.

Aku ibu yang mendoa dalam deras runtuh garis gerimis
pagi ini. Di saat kau gigih mengayuh semangat menerjang
segala untuk menuju cita yang kaupelihara.

Aku ibu yang selalu ingin membelaimu,
selagi bayi hingga kau bisa kokoh berdiri.

Kuingin kau menjadi kuat,
menaklukan segala rasa takut mengahadapi dunia.
Kuingin kau bertumbuh hebat,
bukan, bukan harus menjelma pejabat atau jutawan,
cukuplah menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat

Aku ibu, hidup selamanya dalam hatimu

 

Kembali

Setelah lama sekali, hibernasi, dormansi atau apalah itu….
Saya kembali menulis. Sekedar menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Di sela rutinitas yang bisa bisa membuat gila jika terus dijalani tapi tidak dijiwai. Sangat sulit memang menghadirkan seluruh hati, passion, energi, otak mengikuti gerak hari demi hari. Tapi bukan berarti tidak bisa. Dan bukan berarti saya menderita olehnya.

Saya selalu mencoba menikmati setiap harinya. Dan sekali lagi, saya memang harus menyeimbangkannya.

Selamat bertemu kembali sahabat…. 🙂

Gede-Pangrango di Jendelaku

lihatlah sayang, jauh jauh di sana
di bingkai jendelaku.
gede pangrango berdiri mengamati
gerak gerik kota hujan dan angkot hijau yang mengalir
mengantar pedagang ke pasar,
mengantar petualang ke terminal,
pun mengantar pemabuk pulang ke rumah.

bukalah tirai jendelamu, sayang
dan masihkah kau terkenang
saat muda kita, pernah bercengkerama di sana
di Kedung Badaknya.
lalu mengejar edelweis yang tak kemana selain
berdiam di puncaknya.

di tanjakan setan kau pernah bertanya,
” beranikah kau melanjutkan ?”
tentu saja, sayang.
tentu saja aku berani, aku bukan gadis lemah,
aku berani menghadapi apapun, selain diriku
sendiri.
dan gunung itu pernah membisikkan, padaku.
“tegak berdiri
dan hadapi
dirimu sendiri,
maka kau akan berani hadapi dunia”

dan saat kita masing masing telah terlempar,
jauh. jauh sekali.
kau di pulau timur, dan aku di barat,
masihkan kau ingat.
gunung itu, lembah lumut itu,
petuahnya dan air panas yang ramah.

kini saat ku kembali, di kakinya yang jauh.
setalah lama sekali,
kurasai dia menyapa, apa kabarmu
lalu bertanya,
“sudahkah kau berani hadapi dirimu sendiri ?”