#Fiksi

#1. Arōma.

Seperti halnya udara yang menempati ruang, aromapun menempati ruang. Setiap ruang memiliki aroma yang spesifik. Aroma yang terhirup melalui hidung akan terekam dalam memori kita. Aroma ruangan yang kita tempati sehari-hari tentu akan melekat lebih kuat di dalam memori kita.

Kamar ayah ibu beraroma minyak kayu putih. Kamar mbah putri beraroma gabungan minyak kayu putih dan minyak cem ceman buatan sendiri. Ruang tamu kami beraroma koran yang bersumber dari tumpukan koran di pojokan ruang. Kamarku sendiri beraroma jeruk, emm..tepatnya daun jeruk. Di samping kamarku ada tanaman jeruk nipis yang aromanya selalu menyusup melalui celah jendela.

Aroma di setiap ruangan rumah telah terekam kuat di otakku. Aroma yang kuakrabi dan pasti akan kurindukan jika suatu saat nanti aku pergi jauh dari rumah ini, entah sebentar atau lama. Tapi….sampai dengan hari ini aku belum punya rencana ke mana-mana sih. Aku ingin tetap tinggal di sini, rumah beraroma aneka rupa.

Setiap kali aku memasuki ruang baru, otomatis aku akan mencoba mendefinisikan apa aroma dominan ruangan itu.

Seperti halnya hari ini, aku mencoba mendefinisikan aroma baru di ruangan ini: kelas baruku. Ternyata itu tidak semudah biasanya, tidak semudah ketika aku mendefinisikan perpustakaan atau mushola sekolah. Berbagai merk parfum berkeliaran mengaur di udara. Bercampur aroma tinta spidol, buku baru, bau sepatu apak, seragam baru yang belum dicuci…….pun aroma melati yang menyusup lewat jendela nako di samping bangkuku. Meski belum menentukan apa aroma dominannya, aku berusaha mengakrabinya agar betah sampai dengan satu tahun ke depan.

Di kelas baru ini, tak banyak anak yang kukenal, hanya empat orang. Mereka adalah mantan teman sekelasku dulu. Itupun tak terlalu akrab. Salah satunya adalah Ibrar yang jenaka. Selalu punya cerita untuk dibahas lalu ditertawai bersama. Sudah menjadi tradisi di sekolah kami, bahwa setiap tahun murid-murid akan dirotasi ke kelas lainnya. Dengan begitu diharapkan keakraban antar murid lebih terjalin luas.

Tahun ini aku masuk ke kelas 3 jurusan IPA sebuah SMA di Bogor. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua berjalan biasa saja. Satu hal yang membuatku antusias adalah tahun ini adalah tahun terakhirku di SMA.

Entah mengapa aku tak terlalu menikmati masa SMA seperti kebanyakan orang lainnya. “Itu karena kamu tak punya banyak teman, Ka. Cobalah bergaul dengan yang lainnya.” Komentar sahabatku, Nevi sehari yang lalu. “Itu karena kamu tidak satu sekolah denganku Nev.” Balasku kemudian. Nevi tergelak, “Cobalah cari Nevi lainnya Ka, pasti ada…lah orang yang mirip-mirip denganku. Sifatnya loh ya…., kalo cantiknya sih aku tak terkalahkan Ka.” Nevi tertawa setelahnya. Mungkin menyadari sendiri bahwa perkataannya barusan adalah salah. Yah….tidak sepenuhnya salah juga, pada kenyataannya apa yang menjadi definisi cantik telah dimilikinya. Dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki, termasuk perawakannya yang memenuhi syarat sebagai model.

Nevi adalah temanku semenjak balita. Kami bertetangga cuma dipisahkan satu rumah. Sejak TK sampai SMP selalu satu kelas. Hanya ketika SMA kami berpisah, karena Nevi memilih masuk sekolah kejuruan sedangkan aku memilih SMA yang dipilihkan oleh Ibu. Sekolah favorit kebanyakan orang, yang bukan menjadi favoritku. Sejujurnya aku ingin masuk sekolah yang sama dengan Nevi. Namun ketika kuungkapkan itu, Ibu menolak dengan halus disertai alasan-alasan yang sampai saat ini masih berusaha kupahami.

Dua tahun berlalu. Terasa lama. Kuharap tahun ini berlalu lebih cepat daripada dua tahun sebelumnya. Semoga….

Pukul enam tigapuluh. Aku telah duduk di bangku pilihanku.

Indera penciumanku tiba-tiba didominasi oleh aroma sabun mandi merk yang kukenal, seseorang entah siapa namanya dengan cueknya duduk di sampingku. Kebetulan kursi di sebelahku memang kosong. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas, siapa pun bebas memilih tempat duduk yang disukainya. Termasuk murid laki-laki ini, yang memilih duduk di sampingku. Aku terheran-heran, tak biasanya ada murid laki-laki mau duduk di barisan paling depan.

“Namaku Yudistira”. Anak itu memperkenalkan diri tanpa menoleh dan tanpa mengulurkan tangan. Aku mengangguk cepat, meski gerakan itu sia-sia karena dia tak melihatnya.

“Namamu ?” Dia bertanya kemudian.

“Kika.” Jawabku tanpa menoleh juga.

“Maksudku nama panjangmu. Kalau nama panggilan aku sudah tahu.” Dia protes. Aku keheranan, darimana dia tahu nama panggilanku.

“Qanita Hafidz.”

“Kenapa dipanggil Kika?” Dia mengernyit. Kenapa dia meributkan orang mau memanggilku apa ? Aku saja tak pernah mempertanyakan kenapa aku dipanggil Kika.

Sebelum aku menjawab, guru sudah masuk ke dalam kelas. Aku memilih diam. Dia pun demikian.


 

Ayah sakit. Hari-hari terakhir terasa aneh. Ibu tidak mau jujur tentang jenis penyakit ayah. Beberapa hari terakhir ayah hanya tidur-tiduran di rumah. Kalau masih sehari atau dua hari aku mungkin tidak akan sekhawatir ini. Ini sudah dua minggu ayah tidak masuk kerja. Ketika aku menanyakannya mereka berdua bungkam, hanya saling pandang. Lalu mengalihkan pembicaraan, seolah pertanyaanku tidak pernah terlontarkan.

Berat badan ayah menyusut, terlihat semakin menipis. Perut buncitnya entah lenyap disesap apa. Kegagahannya entah kemana. Dia semakin selektif memilih makanan. Jika sebelumnya kami sering menghabiskan akhir pekan berburu makanan, kini digantikan dengan berburu obat-obatan.

“Kenapa ayah tidak lagi mau aku ajak makan soto mi?” Aku bertanya ketika melihat ayah duduk santai di depan TV.

“Soto mi kolestrolnya tinggi.” Jawab ayah sambil tersenyum.

“Kalau begitu Kika juga tidak mau makan soto mi lagi. Ayah maunya makan apa?” Tanyaku.

Aku berniat mengajak ayah berburu makanan hari ini. Apa saja yang ayah suka. Apa saja yang aman bagi tubuhnya. Ayahku malah tersenyum.

“Ayah sih masih boleh makan apa saja, Ka. Tapi ayah harus pinter-pinter mengatur keseimbangan asupan gizi yang masuk. Agar ayah tetap sehat. Satu hal lagi, yang penting makanannya harus halal.” Ayah menjelaskan diakhiri gelakan tawa.

“Kika ingin mengajak Ayah makan, yuk…kita kemana.” Aku merajuk. Hari ini adalah Sabtu ketiga sejak ayah jatuh sakit. Sebenarnya harapanku untuk mengajak ayah makan tidak terlalu besar, mengingat sampai tadi pagi ayah masih terlihat pucat. Tak kusangka ayah mengiyakan.

Setelah bersiap dalam waktu singkat, ayah dan aku sudah meluncur menuju sebuah tempat makan yang kutentukan. Di sana ada menu vegetarian yang mungkin bisa jadi alternatif pilihan ayah. Benar saja, sesampainya di sana ayah bisa leluasa memilih menu makanan yang ‘aman’. Ayah memilih steak yang terbuat dari jamur, sedangkan aku lebih suka mencoba sapo tahu sea food.

Kami memberi nilai 8 untuk aspek rasa dan penyajian makanan. Ayah mendeskripsikan rasa menu yang dipilihnya dengan gaya Pak Bondan yang tentu saja diakhiri dengan kata mak nyuss….

Ini kebiasaan kami setiap akhir pekan. Dua minggu terakhir ini saja kami melewatkannya. Ibu tidak ikut kali ini, karena harus mengantar Mbah Putri menghadiri pernikahan cucu teman akrabnya sewaktu dulu masih bekerja sebagai guru. Kebetulan acara pernikahannya di Sukabumi, jadi agak jauh. Pasti memakan waktu setidaknya hampir empat jam pulang pergi.

Boleh dibilang aku mencuri kesempatan mengajak ayah keluar rumah, mumpung ibu tidak ada. Aku yakin jika ada ibu, ayah tidak boleh keluar dulu. Apalagi harus menyetir. Sejauh ini kondisi ayah baik-baik saja. Justru senyumnya terus merekah di wajahnya, karena akhirnya bisa melihat kondisi luar lagi.

“Ayah, sebenarnya ayah sakit apa?” Aku bertanya hati-hati sambil memainkan sendok di atas hot plate yang nyaris kosong.

Wajah ayah terlihat tenang. Aku yakin ayah berusaha menampilkan ekspresi sebiasa mungkin.

“Baiklah, sudah waktunya kamu tahu. Ayah divonis kanker darah. Akhir-akhir ini ayah sering merasa pusing dan lemas. Itulah sebabnya ayah meminta izin untuk istirahat di rumah cukup lama.”

Aku terkejut luar biasa. Sendok di tanganku terlepas dengan sendirinya. Ototku serasa melemas seluruhnya.

“Kika tidak perlu khawatir, ayah berjanji akan sembuh. Ayah dan ibu sudah berkomitmen untuk mengupayakan apapun demi kesembuhan itu. Kika bantu berdoa ya. Kika jangan berfikir macam-macam. Kika yakinkan diri aja bahwa ayah pasti sembuh. Insyaallah….”

Itulah ayahku, itulah dia yang selalu mengajarkan mengenai berjuang dalam hidup, berpikir positif dan yakin Allah akan memberi ketetapan yang terbaik.

Tapi untuk saat ini segala itu terasa absurd. Pikiranku terlanjur ribut. Bagaimana jika upaya itu gagal, bagaimana jika waktu bersama ayah tinggal sedikit, bagaimana jika ayah tidak sembuh seperti dulu….

Bagaimana jika….

“Kika jangan menangis. Kika janji untuk selalu jadi anak kuat kan… Kika harus kuat menerima kenyataan ini. Bantu ayah untuk tetap semangat menyembuhkan diri ya….”

Ayah memang selalu mengajarkan untuk menjadi pribadi yang kuat. Tak mudah menyerah dan selalu ikhlas pada ketetapan Allah.

Namun, untuk saat ini ajaran yang sudah kupahami sedalam-dalamnya itu terasa sulit untuk dijalankan. Terlalu berat…. terlalu awal. Kenapa harus sekarang, disaat aku belum genap tujuh belas tahun. Mengapa aku harus menghadapi hal ini, di saat remaja belasan lainnya sedang menikmati indahnya masa muda.


 

Aku terbangun mendadak. Tangisku meledak di bawah bantal yang kubenamkan di wajah. Mimpiku barusan terasa nyata. Ayahku disholatkan di masjid dekat rumah. Syukurlah itu hanya mimpi. Meskipun begitu emosiku terlanjur terhanyut dalam ketakutan akan kehilangan seorang ayah.

Ayah…apakah ayah masih hidup ?

Aku terkesiap. Segera bangun dan berlari menuju kamar ayah. Ini pukul lima pagi. Kulihat ayah masih duduk di atas sajadah. Tasbih berputar pelan di antara telunjuk dan ibu jarinya. Rasa syukurku membuncah. Aku menubruk ayah seketika, menangis sesenggukan di pelukannya.

“Jangan tinggalkan Kika, ayah….” Ujarku di sela tangisan. Ayah membelai rambutku perlahan. Aroma wangi kesturi merambati hidungku. Kurekam aroma itu. Akan kuingat selalu wanginya yang lembut.

Ini aroma ayah. Aroma ayah yang kesturi.