Kembali

Setelah lama sekali, hibernasi, dormansi atau apalah itu….
Saya kembali menulis. Sekedar menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Di sela rutinitas yang bisa bisa membuat gila jika terus dijalani tapi tidak dijiwai. Sangat sulit memang menghadirkan seluruh hati, passion, energi, otak mengikuti gerak hari demi hari. Tapi bukan berarti tidak bisa. Dan bukan berarti saya menderita olehnya.

Saya selalu mencoba menikmati setiap harinya. Dan sekali lagi, saya memang harus menyeimbangkannya.

Selamat bertemu kembali sahabat…. 🙂

Gede-Pangrango di Jendelaku

lihatlah sayang, jauh jauh di sana
di bingkai jendelaku.
gede pangrango berdiri mengamati
gerak gerik kota hujan dan angkot hijau yang mengalir
mengantar pedagang ke pasar,
mengantar petualang ke terminal,
pun mengantar pemabuk pulang ke rumah.

bukalah tirai jendelamu, sayang
dan masihkah kau terkenang
saat muda kita, pernah bercengkerama di sana
di Kedung Badaknya.
lalu mengejar edelweis yang tak kemana selain
berdiam di puncaknya.

di tanjakan setan kau pernah bertanya,
” beranikah kau melanjutkan ?”
tentu saja, sayang.
tentu saja aku berani, aku bukan gadis lemah,
aku berani menghadapi apapun, selain diriku
sendiri.
dan gunung itu pernah membisikkan, padaku.
“tegak berdiri
dan hadapi
dirimu sendiri,
maka kau akan berani hadapi dunia”

dan saat kita masing masing telah terlempar,
jauh. jauh sekali.
kau di pulau timur, dan aku di barat,
masihkan kau ingat.
gunung itu, lembah lumut itu,
petuahnya dan air panas yang ramah.

kini saat ku kembali, di kakinya yang jauh.
setalah lama sekali,
kurasai dia menyapa, apa kabarmu
lalu bertanya,
“sudahkah kau berani hadapi dirimu sendiri ?”

Aih, Hari Ini….

aih hari ini, tanggal merah yang kunanti. saat langkah-langkah terhenti. tak perlu berlarian dan mengharap jam istirahat. tak perlu tertatih oleh list panjang pekerjaan yang dilimpahkan. dan akupun kembali memiliki diriku sepenuhnya.

———-

aih, hari ini. saat aku bisa meneguk coklat panas, tanpa harus berkali-kali menengok arloji. saat aku bisa berlama-lama merasai endorfin yang dibangkitkan. serta menjenguk teman-teman maya yang terabaikan. dan begitu, aku merasai kerinduan sekaligus merasa dilupakan.

———

aih hari ini, saat aku memilih tidur dibanding menerima tawaran nonton narnia. bukan karena ku tak setia kawan. hidup toh pilihan. dan narnia masih tayang esok lusa. tapi rasa capek harus disembuhkan. sebab sekretaris kantorku sudah mengirim email agenda esok hari.

———

aih hari ini, saat engkau batal menjenguk. dan kerinduan masih bertumpuk. aku memilih mengetuk keyboard. membiarkan gagasan berloncatan liar di layar. biar saja berantakan. biar saja tidak indah. apa peduliku. toh aku bukan rendra, bukan pula pramodya.

———

ai hari ini, hari yang pantas dirayakan. bukan dengan kembang api atau mercon. tapi dengan doa dan harapan awal tahun. pun sedikit keyakinan dan kesungguhan. tahun ini harus lebih berkualitas dari sebelumnya. sebab kita telah banyak berbuat salah dan belajar karenanya.

———

aih hari ini,

———

happy new islamic year, wish you all the best !!
^,^

Replay

Seperti delapan tahun lalu. Di ruang tamuku yang abu. Kau dan mereka datang bersama riang sore hari. Bercerita segala. Tentang dosen yang penyayang sekaligus plin plan. Tentang kuliah yang melelahkan dan praktikum di lapangan.

Lantas keluhan dan nasihat meluncur bergantian. Di seling ramai tawa lepas ikhlas. Sementara hujan turun mendadak. Lantas langit meledak. Menyala seterang neon pada sepersekian detik. Dan kita terjebak dalam obrolan yang marak. Tak begitu peduli petir salak menyalak.

Lalu waktu melesat cepat.

Aku, kamu dan mereka menyebar langkah pada arah berbeda. Janji bertemu menjadi semakin langka. Meski kita tak pernah bisa benar-benar lupa, tentang kisah kisah berwarna cerah pun redup. Segalanya seperti sangat hidup, seolah baru terjadi kemarin itu.

Dan hari ini, bersama cappucino yang pekat.

Kita bersama meloncat mengetuk pintu waktu. Mengunjungi masa masa itu. Mengulang segala rasa yang sama. Kebersamaan dan kasih sayang tanpa tendensi. Menertawakan kebodohan yang polos dulu. Mengomentari kecerobohan darah muda. Ah, betapa waktu telah membentuk kita jadi sedikit bijak dan penyabar. Menyikapi peristiwa dari sudut berbeda.

Dan hari ini, bersama donat yang bulat.

Kita coba memutar ulang apa yang terekam. Melangkah mundur sebentar bertualang dalam kenangan. Betapa segala indah dan menyenangkan. Bersyukur kita pernah diakrabkan dalam persahabatan.

Syarat

“Jika naik kelas, kau akan kuberi selusin buku tulis berwarna dan beraroma bunga. Jika kau tak naik kelas, kau tak akan kuberi uang saku selama tujuh minggu.”
Ujar banyak bapak kepada anak-anaknya.

“Kau kan kucinta hanya jika kau mencintaiku. Kau kan kunikahi hanya jika kau bisa membelikanku sebuah rumah berpagar baja.”
Janji sang kekasih kepada lelakinya.

“Saya akan menaikkan pangkatmu jika kau bekerja keras dan disiplin. Kau akan kupecat jika melanggar peraturan.”
Janji sang atasan pada bawahannya.

“Aku akan beribadah jika Tuhan memberiku pahala untuk membayar tiket ke surga.”
Janji seorang hamba suatu ketika.

Begitulah, saya atau anda atau kebanyakan kita selalu fokus pada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bukan tujuan itu sendiri. Bukan pula makna dari proses yang dijalani. Hal itu membuat kita terjebak pada perbuatan yang mekanistik, yang sayangnya hanya berefek pada hilangnya energi (baca : capek) semata. Tanpa pernah mendapatkan arti yang hakiki dari suatu proses dalam setiap tahap kehidupan.

Mindset kita pun sering terperangkap pada paradigma ‘saya akan bahagia jika tujuan saya tercapai’. Seharusnya ‘kan kita bahagia kapan saja, hari ini, besok dan nanti. Tidak hanya pada momen tertentu saat tujuan tercapai. Rugilah kita kalau begitu…

Kita selalu melupakan esensi dari sebuah perbuatan. Kita hanya fokus pada bagaimana cara mencapai hasil yang diinginkan. Tidak menghayati proses yang dijalani, tidak melibatkan hati, tidak melibatkan diri sepenuhnya dalam rangka pembelajaran dan pengabdian pada-Nya.

Bukankah segala hal baik yang kita kerjakan harus diniatkan untuk menggapai ridho-Nya…? Bukan hanya menggapai surga-Nya ? Jika kita sedemikian terobsesi pada surga, maka kita hanya akan menjadi hamba yang tendensius. Bukan sang mukhlasin yang orientasinya adalah Ridho Illahi.

Surga hanyalah efek, bukan tujuan. Dan ibadah bukan lagi syarat, tapi proses yang indah yang menerbitkan kebahagiaan hakiki setiap kali menjalaninya.

Semoga kita bisa selalu ikhlas menjalani setiap perbuatan, bukan hanya sekedar menggugurkan persyaratan semata.

Wallahu ‘alam bisshowab…

Tanpa Merek

Kau lihat mereka melihatmu sebelah mata,
sebab kau tak berbaju zara dan bersepatu everbest.
kau lihat mereka menurunkan kacamata, memicing miring menatap tasmu yang bukan gucci atau samsonite.

haruskan jenius diperangkap kacamata guess, atau dibelenggu penunjuk waktu seiko ?
haruskah kejernihan hati diselubungi simplicity lalu diaurkan oleh chanel no 5 ?

tidak mengertikah mereka, bahwa kau adalah pribadi tanpa merek yang tak hendak dinilai sedemikian dangkal.
rugilah mereka, tak pernah mampu mencapai kedalaman substansi,
pun tak kan sadar telah menuju dehumanisasi sendiri.

kau hanya anak jaman yang tak sudi dibungkus manis produk kapitalis.
kau hanya anak jaman tanpa bandroll,
bukan bagian dari mereka yang melenggak lenggok mengkampanyekan merek merek entah dengan harga dua ribu kali harga gabah.

Waktu

Tik tok tik tok penunjuk waktu melaju maju. Menubruk aku yang kaku bergerak robotis mengitari pagi siang lalu malam.
Sementara kata kata berhambur dalam kepala tak tertata. Berjejalan serupa penumpang bis kota pada sore jam lima.
Segala kata mengambang di permukaan tanpa sempat bersnorkel ke dalam sana sebelum akhirnya terlupa begitu saja. Aku ingin menuliskannya, terkadang.
Terkadang tidak juga, membiarkannya ada dalam pelukan udara dan mengikhlaskannya diseret waktu mundur jauh ke sana.

Tik tok tik tok, tahun depan menjelma tahun sekarang. Banyak kata belum juga tertata rapi dalam sebuah halaman bersampul hitam. Segala kata hanya ada tapi tak mengada. Tak sempat terbaca, tak sempat tercatat. Biarlah, biarlah begitu saja. Sebab sejarah terlalu padat memuat kisah tabung gas meledak, misteri teroris, rumah aspirasi serta segala polah artis dan penghibur.

Tik tok tik tok, aku hanya diam mengirama jalannya waktu….

“apa kabar sobat ?”